TRAGIS!! Pemuda Tiba2 Mengamuk Dan Melukai 10 Penumpang Kapal Belanak, 1 Kritis

77
0
SHARE

Ratusan penumpang Kapal Wira Glory yang melayani penyeberangan dari Kota Sibolga menuju Gunung Sitoli, Pulau Nias digegerkan adanya kejaian penikaman di dalam kapal, Rabu (20/12), pukul 00.30 WIB.

Mereka panik, histeris, dan berdoa menyaksikan pembunuhan sadis dini hari.

Tiga orang meninggal dunia dan seorang lainnya penumpang kritis lantaran mengalami luka tusuk di bagian tubuh.

Dua penumpang yang meninggal yaitu Peringatan Nduru (25 tahun) dan Anugerah Waozatullo Zebua (25), masinis kapal Wira Glory.

Penumpang bernama Odalige Harefa (50) kondisi kritis lantaran mengalami luka pada bagian leher. Adapun Demajaatulo Laila (50), pelaku penikaman, juga meninggal dunia. Demajaatulo Laila ditembak pada bagian kaki, tangan.

Tidak lama setelah ditembak, pelaku menggorok lehernya sendiri.

“Ada kejadian ini di kapal. Kebetulan saya mau pulang ke Nias naik kapal, tapi para penumpang dikejutkan adanya aksi penikaman. Tiba-tiba seorang penumpang mengamuk kemudian menikam penumpang lainnya. Lokasinya di bagian bawah,” ujar seorang penumpang Efentinus Nduru (27) kepada Harian Tribun Medan/Tribun-Medan.com, Rabu (20/12) pukul 04.30 WIB.

Kapal Wira Glory adalah feri penumpang jenis Ro-Ro. Yaitu kapal pengangkut penumpang sekaligus kendaraan yang berjalan masuk ke dalam kapal dengan penggeraknya sendiri dan bisa keluar sendiri juga, sehingga disebut sebagai kapal roll on -roll off atau disingkat Ro-Ro.

Efen menyampaikan, beberapa penumpang yang sudah terlelap tidur, tiba-tiba terbangun mendengar suara teriakan minta tolong dari bawah kapal. Puluhan penumpang yang berada di bagian bawah berhamburan menyelamatkan diri.

Mereka berupaya naik ke dek atas kapal lewat berbagai pintu masuk maupun tangga.
Dia merasa bersyukur suasana mencekam tidak berlangsung lama, beberapa personel TNI AL yang berada di dalam kapal turun ke bawah. Penumpang yang masih berada di bagian bawah disuruh menjauh. Personel TNI itu terlihat bernegosiasi dengan penumpang kalap.

Dari kejauhan, beberapa petugas berupaya menenangkan pelaku pembunuhan, mereka menggerakan tangan dan kepala terlihat ada proses berdialog. Tapi, pria paruh baya itu berulangkali mengarahkan pisau ke petugas.

Tidak lama setelah tongkat besi ditarik petugas, kata dia, terdengar beberapa kali suara letupan senjata api dari jarak dekat. Letusan itu membuat penumpang, terutama perempuan makin panik. Mereka berteriak histeris, ada pula hanya berdoa pelan memanggil nama Tuhan. Setelah itu, terdengar suara petugas yang meminta penumpang tenang karena pelaku meninggal dunia.

“Usai mendengar tembakan itu, hampir seluruh penumpang disarankan untuk tenang. Darah segar telihat berceceran di lokasi. Beberapa orang menutup gunakan kain maupun tikar yang ringan. Saya sempat turun untuk melihat keadaan,” kata Efen.

“Secara mendetail apa saja yang disampaikan petugas saat negosiasi?” tanya Tribun Medan. Ia menjawab ketika beberapa petugas turun ke bagian bawah, hanya melihat dari atas. Dia tidak berani mendekat karena khawatir suasana riuh enggak terkendali.

“Jujur saja. Saya ikut merasa ketakutan, cemas karena rencana mau mudik Natal dan Tahun Baru tapi dikejutkan adanya peristiwa ini. Penumpang yang ingin pulang ke Nias juga membludak harusnya senjata tajam enggak boleh masuk ke dalam kapal,” ujarnya.

Dia menuturkan, sebelum naik ke atas kapal, ada belasan petugas yang melakukan pemeriksaan, namun peristiwa penikaman masih terjadi. Seharusnya, senjata tajam maupun besi tidak dibenarkan masuk ke dalam kapal. Apalagi, sekarang ini masyarakat banyak mudik ke kampung halaman.

“Keamanan untuk penumpang mudik Natal dan Tahun Baru harusnya lebih ketat dan pelayanan bagus. Kalau ada yang bawa senjata tajam kayak pisau diambil saja. Agar, tidak ada lagi peristiwa serupa di dalam kapal,” katanya.

Saat mengabari Tribun Medan, Nada suara Efen tersengal-sengal saat menelepon. Ia mencoba ceritakan kejadian penikaman di kapal tersebut. Suara riuh masih terdengar di dalam kapal. Tatkala, dia menghubungi Tribun Medan, mereka baru saja tiba di Pelabuhan Sibolga. Kapal yang mereka tumpangi enggak melanjutkan perjalanan menuju Gunung Sitoli, melainkan berbalik arah.

“Kapal berangkat pukul 10.00 malam, kejadian pembunuhan itu sekitar pukul 00.30 WIB. Kami sudah hampir ke tengah laut namun kembali ke arah Sibolga. Kapal baru bersandar, beberapa petugas kepolisian baru saja masuk ke dalam,” katanya.

Alumni magister Sosiologi USU ini menambahkan, setibanya kapal di Pelabuhan Sibolga, petugas kepolisian langsung mendata penumpang. Para penumpang maupun anak buah kapal (ABK) diperiksa terkait peristiwa penikaman.

Pelaku penusukan juga para korban yang meninggal dunia dan luka didata polisi. Posisi keributan berada di dek bagian bawah kapal, tidak jauh dari parkir truk maupun mobil maupun barang-barang.

Lebih lanjut, ia mengisahkan pria sepuh yang belakangan bernama Demajaatulo Laila (50) mengamuk sejadi-jadinya. Tidak diketahui secara pasti penyebab Demajaatulo marah-marah menikam siapa pun yang berada di sekelilingnya.

“Saya enggak tahu apa alasannya marah hingga berani menikam para penumpang di sekelilingnya. Kebetulan ada keluarga yang di bawah juga enggak tahu. Tiba-tiba saja mengamuk dan menikam penumpang lainnya,” ujarnya.

Kapolres Sibolga, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP), Edwin H Hariandja menuturkan, petugas mengamankan satu buah besi sepanjang 170 sentimeter sebagai barang bukti. Sedangkan, pisau terjatuh ke dalam laut.

Kapolres Sibolga, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP), Edwin H Hariandja menuturkan, petugas mengamankan satu buah besi sepanjang 170 sentimeter sebagai barang bukti. Sedangkan, pisau terjatuh ke dalam laut.

“Setibanya kapal di Sibolga, kami mengecek tempat kejadian perkara dan membawa korban yang kritis ke Rumah Sakit Dr FL Tobing agar mendapatkan pertolongan. Kemudian memeriksa para saksi di antaranya Sertu Robert,” ujarnya.

Ia berencana melakukan pemeriksaan para saksi meliputi nahkoda, para ABK dan dua petugas pengamanan kapal. Kemudian, melakukan pengamanan di seputaran pelabuhan supaya kejadian serupa tidak terulang lagi. Bahkan, barang-barang penumpang kapal juga akan diperiksa.

“Setibanya kapal di Sibolga, kami mengecek tempat kejadian perkara dan membawa korban yang kritis ke Rumah Sakit Dr FL Tobing agar mendapatkan pertolongan. Kemudian memeriksa para saksi di antaranya Sertu Robert,” ujarnya.

Ia berencana melakukan pemeriksaan para saksi meliputi nahkoda, para ABK dan dua petugas pengamanan kapal. Kemudian, melakukan pengamanan di seputaran pelabuhan supaya kejadian serupa tidak terulang lagi. Bahkan, barang-barang penumpang kapal juga akan diperiksa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here